Thursday, March 20, 2014

A real true winner



It could eat you up
If you're trying to keep it all inside

----------
This semester is an insufferable boreness. I could hardly grasp any excitement and joy through all the learnings and so. Yet kita sebagai muslim, akan try to seize every moments we've been bestowed upon untuk lalui hidup dengan sebaiknya. Biarlah bosan macam mana pun, asalkan Allah redha dengan nafas ini. 

Hence the result. Hahaha. 
Saying to self, takpelah; this is what you called hidup ini ibarat roda. And this peculiar moment is for me to kena lenyek dan hempap dengan keadaan di bawah. Sakitnya sungguh priceless. Yet still, life will teach you thru the hard way. And i am obliged to learn it from the real hard way. 

And since today is the day of the SPM result announcement, i ought to remember my certain few lines to soothe my friends with their results. Aku pernah kata, 

Kita bukan gagal, kita cuma belum berjaya. Life has more to offer, lebih lagi daripada sekadar keputusan di atas kertas. Life is a journey. And the moment bila kita kuat nak bangun once we stumbled upon 'failure', then time tu lah kita ialah the real true winner. The real value of being manusia. How kita respon terhadap kesedihan dan kesakitan. Itulah yang akan membentuk, who we are. 

Towards being a real true winner. 
Bangun nadiyah, bangun. 

Anyways.
Thanks to you, for dedicating this song once upon a time. Listening a song to its max volume is to refrain self from crying. Heh. 

Sunday, October 20, 2013

Culture?

Banyak benda jadi hari ni. And i came to a conclusion.

Kita, akan behave apa yang kita accustomed to be. Kita conditioned to be. Standard behaviour kita is what our sekeliling boleh terima kita. Kalau istilah orang biasa, supaya dapat blend in. Kita akan bersikap sesuai dengan masyarakat terdekat kita. Or sesuai dengan clan kita.

Kadang-kadang aku rasa, kita boleh jadi lain dari manusia. Tp disebabkan perasaan nak mingle dan blending in itu, secara tak langsung mould our personality to be the way our culture is being cultured.

Ada beberapa part dalam beberapa buah buku yang sangat well known, cerita tentang culture.

Siapa yang pernah baca Tuesdays with Morrie, ada satu part dalam tu cerita tentang culture. Kata Morrie kepada mutarabbinya, culture is defined by society. And society defines the culture. So society dan culture are complementary. Dan persoalan yg timbul, magnet mana lagi kuat? Ini bukan Classical Economic System yg semuanya berlaku secara automatic, so called 'invisible hand' and stuff. Surely ada 'something' yang menjadi kutub dalam mempengaruhi society dan culture yang terbentuk. And that, remains an unanswered question. Mempengaruhi diri kita sendiri dalam membina personality.

Being cultured and culturing?
Another issue to be thought for.

Lagi. Aku rasa majority dah baca Anthem by Hlovate. Eventho aku annoyed dengan certain people yg bising dia baru lepas baca Anthem and all they bragged about is Lee and the roses he gave Dash, fikiran aku still waras utk berfikir tentang satu point penting dalam cerita tu. It is about a third-culture kid. Kid yang tak boleh nak define jenis ikut culture mana. Tak melayu, tak western. So, sekali lagi menjadi persoalan, adakah benar personality kita terbentuk oleh suasana? And kenapa jadi macam tu? Why we're moulded by suasana? Kalau tukar suasana, tukar juga sikap. That, explains about kita bentuk diri kita sesuai dengan sekeliling untuk blend in dan senang nak mingle. Then bila selalu sangat migrate, sendiri keliru culture mana nak ikut maka jadilah dia third culture kid. Undefined. Aku quote ayat Hlovate yg banyak kali dia ulang. ''Environment moulds us''

Buku last. Which aku dah sentuh sikit point tentang ni kat atas. Tulisan Paulo Coelho, The Alchemist. Selalu sangat diulang line tentang 'what we're accustomed to be'. Apa yg kita dah dibiasakan selama ni, apa yg telah dirutinkan untuk kita, itulah yg kita akan behave. Somehow kita bukan android yang diprogramkan mengikut apa yg dimanualkan. Santiago sangat flexible utk nak 'masuk' dengan semua suasana. Tapi dia tak pernah sekali pun ubah prinsip dia tentang kehidupan. He regard semua culture dan manusia yang dia jumpa (or dalam buku tu, guna istilah 'omens'), semua are lessons yg akan bawa dia kepada his sole destination. Bukan sebagai apa yang bentuk diri dia, menjadi seperti itu. Kalau ikut istilah aku, (haha besar mandat!), semua tu just checkpoints yg akan mengajar something, bukan point akhir yg akan mempengaruhi keseluruhan personaliti dan diri.

Maka kawan-kawan, itulah bezanya.
Celebrating culture and moulded by culture.
____________________________________________

Sejujurnya aku suffocate sangat dengan sekeliling, yang seolah-olah jadi sangat terikut-ikut. Lepas tu buat clan dekat twitter, facebook etc. Aku rasa orang macam ni sangatlah fake. Tak genuine. Orang lain nak sarkastik, perli, kutuk atau (pakai line halim time jamuan mec hari tu), menyumpah orang dengan segala jenis binatang -- kita pun nak juga jadi macam tu. Sedangkan kita tahu benda tu tak beneficial dan immature gila kot.

I have nothing against anda semua. Tapi what happened tonight, sesama classmates sendiri 'perang saraf' kat timeline, aku rasa nak menjerit pecahkan skrin laptop. Yes aku tahu kawan aku tu memang salah, tapi aku tak rasa nak encounter kesalahan tu dengan go emo all the way and 'kononnya' jadi sarkastik perli apa semua tu is cara terbaik.

This is my point, kita tahu that's not even a decent way to act, tapi sebab sekeliling kita macam tu jugak, (budaya sarcasm judgmentalism dan kutuk mengutuk) kita rasa it is okay. Our culture says it is okay, sebab the society yg gazette the hukum yang state it is okay.  And we choose to be the bawang slices untuk blend in bersama halia cili kering yg lain. Kita rasa kita 'se-clan', senada dan seirama so apa masalahnya?

While in fact that is the whole problem -.-

Ada juga orang akan claim. ''Eh ini memang aku. Takde maknanya aku terpengaruh dengan orang lain''
Sorry mister, but i doubt that.

Dan, cara kita regard situation dan pandang isu pun jadi lain. Seperti apa yang terjadi juga pada aku hari ini. I thought aku berfikir dalam radar yang sama, while in fact tak pun. So jadilah aku ter-emo dengan diri sendiri. Which sepatutnya aku sedar dah lama dah. Terlalu berbeza. Aku terlebih skema and ortodoks kot. *claps*

Dr John Gray, i'm proposing, it's about time for you to write about the collision happened among Venusians themselves. Might be they didn't even realize, the hurt they convicted towards their own species was the hurt that they themselves abhorred if they were treated the same way. We'd done talking about Martians, the hows and whats regarding relationships, emotions and the list goes on to the which we were neglecting on how to behave and tolerate among women themselves.

Bukankah yang sama itu lagi susah nak diurus dari yang berlainan?
The rule of parallel lines states that.

Marilah mari. Lets grow up.
Bench our principle. And make sure prinsip itu datang solemnly dari diri kita, bukan atas apa yg dipengaruhi oleh culture dan society. Macam cerita Santiago tadi.

Thank you for weathering with my long-rambling-takde-motif entry. Panjang kot haha.

Till then,
Nadiyah Syahira Nordin.
211013

Friday, September 27, 2013

of 2nd year and maturity

Bismillah. Salam alaikum :)

I've been longing to publish this kind of entry (yes it was supposed to be published before i enter my 3rd year studies eyy) tapi disebabkan i tinggal laptop kat Irbid and balik Malaysia dengan senang lenang tak bawak banyak barang, so terpaksa postpone this post.

Alhamdulillah i am now a 3rd year degree student in Islamic Banking & Economics, Yarmouk Uni. 2nd year.. it was tough, mind-torturing and suffocating. And many yet to come. Itu cerita study, belum masuk hal peribadi lain yang sangat menuntut tenaga minda dan hati.

Anyway anyhow, aku tak mampu nak comment banyak tentang hari-hari sebagai pelajar tahun dua itu, sebab tak terluah syukurnya Allah mudahkan langkah aku. Alhamdulillah. Walaupun dengan bahagianya aku telah jatuhkan muaddal (pointer) aku time sem 1, tp dengan penuh kesedaran aku naikkan balik dan sekarang, eventho ada sedikit sebanyak penyesalan sebab tak all out dulu, akademik menjadi lebih stabil.

Time tengah menaip post ni, sambil-sambil aku belek notebooks aku sepanjang tahun 2, terjumpa aku tulis satu note. Dan note ini, menutup cerita tahun dua yang aku ringkaskan :)

It is easy for you because Allah ease it for you,
and it seems hard for you because Allah made it hard on you,
don't downgrade people when they couldn't do what you're capable to do,
and don't feel intimidated when you're incapable to do what they're capable to do so,
on top of all, He's the one who made it easy,
and lessen your burden when you found it is hard on you,
your intelligence, your capabilities, your potentials, your everything ;
It is not even yours.
Back to Him, who bestowed it all for you.
Alhamdulillah ala kulli haal, Astaghfirullah ala kulli zanbin.

''..kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya, dia berkata 'sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah kerana kepintaranku', Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui'' (39:49)

----------------------------------------------

Aku tulis note ni masa tengah duduk di library, lari daripada orang yang suka compare aku dengan mereka. Yang suka complain kenapa result aku rendah, dan mula cakap itu ini. Yang suka rendahkan diri mereka bila result aku (sedikit) tinggi. Yang merasakan hidup ini adalah pencapaian akademik semata-mata. Bugger! Yang suka cakap aku manusia gifted sedangkan mereka taktahu aku punya struggle untuk nak improve dalam setiap apa yg aku buat, terutama study. Yang suka pandang rendah konflik diri aku dengan berkata 'alah nadiyah kan iron lady'. Yang mula take for granted perasaan dan emosi aku yang mereka regard as 'nadiyah kan tak kisah?'. And the list goes on.

Aku pujuk diri sendiri sebaiknya.
Dan kenapa aku kata of 2nd year and maturity?
Sebab di umur ini, di tahap tahun pengajian ini, aku sudah mula kenal diri sendiri, sudah berjaya bezakan antara realiti dan fantasi dan angan-angan, sudah tidak lagi deluding myself,
Juga sudah pandai untuk bercakap dan bertoleransi dengan emosi, perasaan, hati dan ego sendiri.

This is my starting point, lets read more about life.
I will surely meet my ups and downs again,
But what matters the most is how aku boleh manage semua ini.
Susah..

And yes sekali lagi, sekarang di awal pengajian sem 1 tahun 3 ini, aku bukanlah seorang manusia yang stabil. I'm fighting against my own inferiority. I'm battling against my own insecurity.

Perlukan masa sedikit untuk adapt, adjust dengan diri sendiri.
Allah yustur insyaallah.

:)

Wednesday, April 3, 2013

They asked me to write something upon my 5 years life-experience in debate. So..

Fikir banyak kali lah jugak nak ke tidak letak kat sini.

Oh and this is a very long entry you dont even want to finish it. So it is advisable for you not to start reading it in the first place. Till then.

-------------------------------------------

Debat dan hidup.

‘’Nadiyah, awak nak apa dalam hidup sebenarnya?’’
‘’Macam-macam ana nak, ustazah’’
‘’Tapi dengan ego begini, tak mungkin’’


------------------------------

                Ringkas. Ketika Ustazah meminta aku menyiapkan satu coretan alumni debat Sekolah Menengah Islam Hidayah, aku terdiam seketika. Apa yang ingin aku tulis? Apa yang aku layak beri? Dan setelah melalui tempoh berfikir yang sangat panjang, aku memilih untuk menceritakan beberapa point signifikan yang telah aku peroleh dalam hidup, melalui penglibatan aku dalam debat di sekolah.
                
               Difahamkan tulisan ini akan ditatap oleh junior debat sekarang. Hai semua J
               
               Sejujurnya, perjalanan aku sebagai pendebat sekolah bukanlah perkara yang mudah. Memaksa diri untuk training bersungguh-sungguh, mempraktikkan apa yang coach ajar, menyusun apa yang perlu difikir, menerima kritikan dengan hati yang tebal (walaupun ada beberapa kali sesi drama air mata, okay banyak kali sebenarnya), membahagikan masa dengan baik untuk study, buat sehabis baik dalam exam dan berpenat dalam persiapan ke tournament. Semua itu sangatlah mengajar banyak perkara. Ditambah lagi dengan konflik hati dan perasaan yang tidak berkesudahan.
               
               Pertama :

Jika ditanya apakah yang aku paling aku hargai sepanjang berada bersama dalam debat ialah ; guru dan sahabat yang sentiasa bersama kita. Di saat kita dipandang rendah oleh rakan lain, ada sahabat setia yang menyokong kita sentiasa. Ketika kita hampir tergelincir, kita lupa kita ini siapa, ada sahabat yang sudi menyedarkan diri kita. Tak pernah berputus asa untuk kembalikan diri kita yang sebenar. Di ketika kita sangat perlukan rakan untuk menggagah bahu, mereka ada untuk bersama meredah kesusahan dan kekecewaan. Mereka yang memahami diam kita mengapa, suka kita mengapa dan duka kita mengapa. Adanya guru, yang telah kami anggap ibu kami sendiri, untuk sentiasa membantu membangun akhlak disamping menggilap potensi. Tidak pernah jemu menasihati sungguhpun kerap kali diulang kesalahan yang sama. Sentiasa menyokong walaupun orang lain mengeji kita atas kekhilafan yang dilakukan. Sentiasa memimpin tangan aku, walau ada kalanya aku yang melepaskan pegangan tersebut. Mendidik aku tentang kehidupan, mendidik aku menjadi manusia. 

                Kedua :

Tidak akan pernah aku sangka, melibatkan diri dalam debat sangat mengajar aku menjadi ‘pengajar’. Bukan sekali aku ditempatkan team bersama junior ; yang masih baru, yang masih banyak perlu dibimbing skil debatnya. Kadangkala (atau memang selalu), menguji kesabaran dan ego sendiri. Memang dikenali sebagai ‘kak nadiyah yang garang dalam team’ , tapi di luar team baik dan tak garang. *Erk, semoga*. Aku terharu dengan coach yang sentiasa kreatif memikirkan idea baru untuk menyerlahkan bakat kami. Coach yang mengajar aku bahawasanya we will gain more when we teach the others. Betul. Rupa-rupanya hinggalah ke saat ini (aku di tahun 2 pengajian degree) , aku masih menjadi ‘pengajar’ kepada  rakan-rakan kuliyah. Aku belajar menyelami jiwa manusia, aku belajar menganalisa fikiran manusia dan aku belajar untuk bersuara dengan cara yang professional. Sekiranya tidak perlu, lebih baik diam. Debat tidak mengajar kita menjadi manusia yang suka membantah, suka membangkang dan sentiasa merendahkan manusia. Tetapi aku belajar, debat mengajar aku menjadi manusia yang lebih matang dalam berfikir, bersuara hanya apabila perlu dan rasional dalam meraikan perbezaan pendapat. Sekiranya dengan debat anda menjadi manusia yang lebih degil dan hanya mengikut emosi sendiri sahaja, anda belum lagi memaknai apa sebenarnya yang dikatakan ‘kehidupan’ dalam debat.

               Ketiga :

Aku ada sebut tentang ego di awal coretan. Dalam kalangan rakan-rakan debat, semua maklum bahawa aku sangatlah degil dan mempunyai ego maha tinggi. Bukan sedikit jiwa yang sudah tercalar dek kerana ego yang melangit ini. Melalui hari-hari aku bersama mereka, aku terdidik untuk melenturkan ego. Bagaimana? Melalui kekecewaan dan kesakitan. Melalui kesedihan dan kepedihan. Adik-adik, jika anda lihat kami bahagia dengan pencapaian debat ini, jika anda merasakan sangat mudah mendapat itu semua, sungguhlah tidak. Banyak siri dan episod kehidupan yang kami lalui, sehinggalah akhirnya sekolah swasta nan terceruk di hujung Kampung Sinaran Baru ini dipandang oleh masyarakat. Banyak pengorbanan perlu dilakukan. Bukan sedikit pengorbanan yang ustaz, ustazah, coach lakukan. Tak terbayar kesemuanya. Dah bukan sedikit pengorbanan yang semua pendebat lakukan. Pengorbanan dari pelbadai aspek. As for me, aku belajar untuk mengenepikan ego dan emosi aku, untuk terus menapak dalam membina dan improve diri sendiri. Bagi manusia yang egonya susah untuk dilenturkan, hal ini sangat susah dan sakit. Tapi aku belajar. Dan akhirnya, aku mampu.

                Keempat :

Dengan kekangan masa yang ada, kami perlu juga untuk terus tunjukkan kecemerlangan akademik. Mematahkan stigma orang ramai yang mengatakan budak debat tak pentingkan akademik, tak masuk kelas dan sebagainya. Urgensi untuk tunjuk pada parents bahawa kita tetap tidak lupakan prioriti utama kita. Bukan senang. Sangat susah. Melalui training yang sangat banyak, yang memaksa otak dan minda untuk menjadi lebih kritikal, aku dapati semakin mudah untuk aku mencerap segala bahan pelajaran. Ustazah kata, keberkatan masa. Mungkin. Bila masa kita semakin sempit dan sikit, kita akan berusaha untuk compress semua benda dalam keadaan yang paling produktif. Dan itulah yang kami rasa. Mungkin lagi sekali.

               Kelima :

Ini point aku yang terakhir. Melalui penglibatan dalam debat, aku belajar mengenal kehidupan. Aku bukan sekadar belajar untuk menganalisa isu dan fakta, bukan semata meningkatkan kemahiran berkata-kata ; malah mempelajari apa itu hidup. Kata coach, debat itu kehidupan. As time goes by, aku semakin memahami apa itu kehidupan. Belajar bagaimana melalui kehidupan. Dalam debat, kita akan stress. Maka perkara yang kita belajar untuk develop ialah how to respond on that. Dalam debat, kita akan sedih. Maka kita belajar what should we do to ensure that we wont repeat the same old mistake. Dalam debat, kita akan kalah dan kecewa. Tapi apa yang paling penting ialah bagaimana kita akan berdiri balik dan belajar daripada kesilapan. Semua ini akan develop emosi dan fikiran, how we control ourselves, how to adapt dengan suasana yang baru, how to react with all types of situations dan segala ‘how to’ yang lain. Semua ini ialah skil kehidupan yang tidak akan mudah kita dapati. Apabila dikatakan skil, ianya perlu dikembangkan melalui pengalaman. Dan pengalaman, ada yang manis dan ada yang pahit. Aku, belajar itu semua. ‘Surviving skills’ dalam hidup. Pengalaman ini juga akan sangat mengajar kita erti kehidupan yang sebenar. Belajar daripada kesalahan, bangun daripada kesedihan dan meletakkan emosi dan ego pada kedudukan sewajarnya—walau bertentangan dengan kehendak sendiri. Sangat banyak mengajar. Semua ini anda akan sangat hargai apabila dah keluar dari sekolah, dah membesar. Percayalah :D

                Kata coach aku lagi, he didn’t teach us debate, he taught us about life. And that is exactly what I’ve learnt throughout my 5 years. Hamdalillah.

                Kini, insan yang menaip ini sedang di tahun kedua pengajiannya di Yarmouk University, Jordan dalam jurusan Ekonomi dan Perbankan Islam. Jika dilihat, aku tidaklah membesar menjadi pendebat. Aku tidak menjadikan debat sebagai karier. Tetapi segala skills dan sahsiah yang aku belajar dan terdidik melalui penglibatan dalam debat, itulah yang aku bawa sehingga kini. Semakin besar, semakin banyak cabaran. Namun jika asasnya kukuh, kita pasti mampu hadapinya. Maka adik-adik, seriuslah dalam apa yang dilakukan sekarang. Jangan terlalu meminta ditempatkan dalam team yang terbaik, jangan terlalu manja dalam training dan jangan terlalu banyak membawa masalah dalam kelab (seperti seniormu ini). Sesungguhnya sekiranya kita benar-benar ikhlas dalam belajar, kita akan menerima dengan hati terbuka segala susunan, segala planning. Seperti halnya Nabi Musa dan Nabi Khidir (rujuk suruh Kahfi), kerendahan diri dalam belajar itulah yang paling utama. Aku sudah selesai 5 tahun sebagai pendebat sekolah, aku bukan lagi seorang pendebat. Namun kecintaan pada dunia yang mengajar aku kehidupan ini mendorong hati ini untuk tetap kembali ke ‘sana’, walau sejauh mana pun aku pergi, walau sejauh mana pun aku lari.

-------------------------------------------------------------

‘’Nadiyah, awak nak apa dalam hidup sebenarnya?’’
‘’Menjadi manusia. Dah terlalu banyak masa ana bazirkan’’
‘’Maka carilah diri. Selamat membesar. Jaga hati, jaga iman’’

Terima kasih semua,
Mana mungkin diri ini lupa,
Mereka yang sentiasa ada,
Walau diri jauh di mata.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, wa astaghfirullah ‘ala kulli zanbin.
Nadiyah Syahira binti Nordin
Yarmouk University,
Irbid, The Hashemite Kingdom of Jordan.
March 2013

Monday, February 11, 2013

Winter and me.

Bismillah. Assalamualaikum :D Alhamdulillah alhamdulillah, cuti dah pun habis, winter trip dah pun selesai, tenaga dah recharged. Sekarang sedang mula semester 2 tahun 2. Perasaan? Entah.

Last winter I went to Spain and Ireland, and i've been sustained with the Daurah Andalus to ensure i am not just jalan-jalan je tapi jalan dengan pandangan hati yang celik. Alhamdulillah untuk itu. This winter? Tiada daurah sebelum pergi, yang ada hanyalah Jaulah Jelajah Jordan bersama Kak Shima dan kanak-kanak (haha) tahun 1. Laporan bergambar jaulah tersebut akan menyusul :p

So i'm here right now just to put some of the pictures, containing all the stories we've been through in the United Kingdom for about 11 days. Aku tak prefer nak buat laporan minit mesyuarat kat sini, i just want the memories remain here, in my space. 

So i present to myself, our ER Winter Trip :')

Jaulah-mate. With Husna, Jannah and Arina. The best mates indeed.

Motif baca mathurat sambil tunjuk mathurat? Haha Arina =.=''


Okay, gambar bawah ni. Aku rasa macam nak bercerita.
Antara sebab aku nak pergi UK this year ialah, untuk berjumpa dengan seorang kakak yang sangat signifikan dalam hidup aku. Lets call her, Kak Fiza :) We met during the IIU Debate, being introduced by our coach. Hmm. And the rest is history.

Di London kami akan berjumpa dia, and sangatlah terharu bila kak fiza belikan tiket train sebab takut kami susah sebab arrive London pagi buta. Kak Fiza belikan tiket dan selit tiket tu kat celah-celah Al-Quran dalam chapel kat Gatwick Airport. So kami pun buat explorace mencari tiket yang ditinggalkan kak fiza. Haha.

''Nadiyah, tiket tu akak selit dalam 3 surah. Surah An-Nur, AsSaffat dan Ankabut''

Us with Kak Fiza, dinner dan taujihat di Queensway.

Us with Kak Fiza lagi, on the way to LSE ikut Kak Fiza pergi kelas :D

So done with Kak Fiza's part. How i want to put it into words eh. 
Sejujurnya rasa macam banyaaak lagi yang aku nak cakap dengan Kak Fiza, about this and that. About the past the present and the future. But it seems to be refrained by the time constraint. I couldnt let it all out. Tapi nak buat macam mana. Anyhow, i thank Allah for giving that opportunity to meet her, even sekejap. Alhamdulillah.

-----------------------------

Recognize this mirror? Ini cermin yang Harry Potter nampak his parents dalam the first series of HP. Harry Potter and the Sorcerer's Stone. Terus homesick semua orang diri depan ni. K kidding.

And we went to Malaysian Student Department of UK. Met this awesome lady. Bekerja di Kementerian Kesihatan Malaysia. This is when Arina rasa semangat nak study sebab this lady cakap ; ''nanti jumpa awak kat kementerian ye''

Edinburgh (:
Where my childhood begins.

Royal Botanic Garden. Kat sini Jannah dah start tak boleh jalan and start swollen kaki dia. 
Which is aku rasa tak perlu cerita panjang,

Royal Botanic Garden lagi.
I JUST LOVE THE SCENERY!
Subhanallah :D :D

Okay. Maka gambar di bawah ni, ada ceritanya.

Kami pergi melawat Royal Yacht of Britannia. Katanya, ini yacht yang digunakan oleh Royal Family untuk pergi belayar dan bila-bila mereka nak buat aktiviti keluarga bersama-sama. Dalam yacht tu lengkap lah macam istana pun ada. Kalau senang nak gambarkan, dia ala-ala macam kapal Titanic. Mewah.

So this is the royal family masa Princess Diana hidup lagi. 
Oh, excluding us :p

Satu sudut dalam yacht.

Dan sesungguhnya aku takdelah nak bercerita pasal keistimewaan kapal ni etc. Kapal ni memang hebat.
Tapi ada satu cerita yang signifikan tentang kapal ini ;

Bila kami pusing satu yacht ni, baru sedar yang sebenarnya, inilah transportation yang digunakan oleh Queen Elizabeth untuk buat visiting negara-negara luar. And surprisingly, dalam tempoh ke arah 1924 dan selepasnya, banyaaak sangat dia pergi visit negara-negara islam, negara-negara arab. Even dalam kapal pun banyak gambar pemimpin arab.

Okay mesti tak faham kan haha.
So kita semua tahu, antara yang bertanggungjawab dalam memperdayakan pemimpin negara arab dan islam semasa era kejatuhan Khilafah, untuk 'menuntut kemerdekaan' dari Khilafah ialah Britain. Armada mereka ligat pergi ke sana sini untuk 'berdiplomasi' dengan pemimpinnya. Memang sangat nampaklah flow route Queen Elizabeth masa zaman tu. Siap ada satu bilik meeting untuk Queen dan Captain discuss negara mana lagi nak pergi etc.

And Queen jugaklah yang utus Lawrence of Arabia untuk mempengaruhi masyarakat arab badwi di Jordan, seperti kisah di Wadi Rum. Kan? ;)

Fuh, kami dalam yacht tu rasa macam terbakar je. Ini rupanya, bagaimana mereka merancang. Ini rupanya, Ini Sejarah Mereka (ISM)  :)
Semasa Ini Sejarah Kita (ISK), kian terkubur.

Dining hall. Sangatlah luxurious. 

Oh. Dalam kapal ni juga ada keris malaya. Maaf tak ingat kisahnya.
Tapi kita semua tahu lah kan negara Malaysia memang hubungan baik dengan Britain.
Mohon semua refresh bagaimana negara kita memperoleh 'kemerdekaan' 1957.
Seterusnya bagaimana Lord Reid being hired. Persekutuan 1963,
dan sebagainya.

2 jam setengah dalam yacht tu memang kerja ktorg refresh sejarah je. Haha.


After 16 years, i'm here again.
Edinburgh Castle :D

Haa cerita kat Edinburgh Castle pulak, (fyi Edin Castle ni, dia macam kubu. macam kalau kt Jordan kita ada Karak Castle iaitu Kubu Salahuddin Al-Ayubi)
Di sini kami lagi lah terasa sayu. Hebat sungguh ketenteraan mereka. Seperti mana kalau naik kubu Salahuddin boleh nampak 3 negara, dan menggambarkan kehebatan ketentaraan masa itu, macam itulah kubu ini dibina. ISM :(

Fyi lagi jugak, Edin Castle ni dibina di zaman World War I & II. Dan mari refresh lagi sejarah, siapa yang 'menang' WWI? Siapa yang 'menang' WWII? Semuanya dapat dikaitkan ketika di atas puncak Edinburgh Castle ini.

Serious tak sangka, datang UK pun boleh dapat kait sejarah. Sebab bukan hadaf kami pun pada mulanya. Sejarah Kita, dan Sejarah Mereka.

Semoga sejarah yang kita pelajari, bukan sejarah yang kering.
Sesungguhnya sejarah merupakan tentera yang menguatkan hati.

Ini merupakan hadaf Back To Nature kami.
The Lake District :D

Tempat yang sangat countryside, kampung dan pedalaman. 
Alhamdulillah selamat sahaja di sana.
Dan subhanallah, sangatlah cantiiik. Majestic and Authentic!

Next, Manchester. 
untuk berjumpa dengan Jannah punya abang.

Macam-macam jadi kat sini, haha.

And rasa macam nak cerita jugak fakta yang aku baru tahu setelah melawat Manchester Uni, ada satu bangunan kuliyah mereka merupakan bekas bangunan church. Dan part yang menarik ialah banyak mayat had been buried beneath it. 

Maka secara spontan saya terkeluarlah dialog ini,
''Jannah! Abang awak study atas mayat!''

maka dengan satu jelingan je dah buat aku diam 3 minit.
------------------

Birmingham City.
untuk berjumpa dengan Husna punya abang.
Ini rumah yang kami tumpang, jazakillah kak :)

Thank you very much to abang Jannah and housemates, and also kakak rumah kawan abang Jannah
Thank you very much to abang Husna and housemates, and also kakak rumah kawan abang Husna.

Ada abang macam best.

Stonehenge, Salisbury. 

Nak kena cerita jugak ke kisah Stonehenge ni? Haha.
Bukan taknak share tapi jari macam dah lenguh, so long story short, sebenarnya stonehenge ni tak dapat dikenal pasti pun apa dia. Sebab monument ini sangatlah bertahun before century. Prehistoric English Heritage. And banyak sangat myth tentang beliau ni. Tapi yg paling rojih ialah dikatakan tempat ni merupakan tempat sembahan matahari.

Bila aku pusing satu batu ni, dan teliti serta buat lawatan tapak yang cermat, memang logik pun.
Tapi sekarang, beberapa batu ni je yang tinggal. Beliau patutnya dalam keadaan bulatan batu dengan ada satu batu tinggi di tengah-tengahnya. This monument is the mysterious one among the Archaeologist. 

Beliau juga listed as one of the 7 wonders of the world. Juga wujud dalam desktop microsoft.
Selebihnya tentang kisah hidup beliau ni, aku dah macam tak berminat nak tahu. Banyak benar khilaf pendapat dan myths.
------------------------------------------------

Scones with clotted cream. 
Since aku bukan jenis yang menghargai makanan dengan sebenar-benar penghargaan,
scones ni berjaya dihabiskan separuh sahaja.
Lalu,
kena brag dengan Husna -.-

Btw, bila aku google search, clotted cream yang paling sedap memang dikenali sebagai Devonshire Cream (which is tempat yg kami makan ni). Fuh Husna mesti tak menyesal sebab dia sangat menghargai clotted cream time kat sana.

Oh lupa nak mention where are we now.
We're now in Exeter, Devon :D
Tempat yang aku rasa, tiada student Jordan yg datang cuti ke UK akan singgah. Heh.
Samalah macam Lake District tadi.

Subhanallah! 
Ini kat, err, tak ingat nama tempat. Tapi ini ialah on the way ke Land's End (penghujung UK)

Kami bertolak awal pagi sebab kalau boleh nak sampai kat atas puncak ini dan boleh tengok sunrise.
Tapi memang tidaklah, datang waktu winter haruslah hujan dan hujan sepanjang hari.

Anyhow alhamdulillah.
Atas ni memang tersangatlah memanglah cantik tersungguh.


Gambar macam edit, tapi tak edit.

Kerusi ni memang wujud tiba-tiba atas bukit ni. Sebab ada seorang manusia yang sangat suka duduk di atas ni dan beliau sangat inspired dengan ketenangan kt sini. So dia letak kerusi sebagai memorial tempat yang dia selalu duduk dengan ibunya :)

Sungguhlah.
Aku rindu dengan ketenangan di atas ini.
Allah :/

Another view.
Us with our car. 
Senang nak reach tempat macam ni dengan kereta. Sangat best sebab boleh berhenti dan tengok view as much as we like. Subhanallah sangat cantik!
Oh and bukan kami pun yang drive. Jangan risau.
Kami ada driver (:

i'm typing this while visualizing i'm still there,
subhanallah alhamdulillah allahu akbar.

''(Dan mereka) ialah orang yang mengingati Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring seraya berkata ; Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau maka peliharalah kami daripada azab api neraka''

Dzouq.

''hati kita, biarlah ibarat sungai yang mengalir. sentiasa basah, sentiasa disucikan dari segala kotoran dan debu''

GPS yang setia. Still heading to Land's End.



Angin yang sungguhlah kuat. 
''wal mu'tafikata ahwa''

Kalau tiada kabus yang tebal, boleh nampak Ireland dari sini. Tapi, bukan rezeki kami :)

Subhanallah. Ciptaan Allah, mata ini dah saksikan betapa tiada celanya ciptaan-Nya. Sangat cantik, sangat menyenangkan mata, menyejukkan hati. 

Sempurna.

The best shot. 
Macam kelakar pulak bila teringat dialog time ni,
''korang 4 orang diri kat sana, ana nak snap piece yang nampak korg macam power''

Sampai sekarang tak boleh comprehend power jenis apa lah yg cuba disampaikan. 

This is soo calming!

Okay dah cukup banyak gambar Land's End. For me this is the best place i've ever been before.
Sangat cantik. Subhanallah. Tak terkata.

''Bagi sesetangah orang, alam mempunyai energi yang mampu memberi kekuatan'' -Husna. 

True. Aku pernah post tentang terujanya aku tentang alam.
Alam yang kuat, alam yang tenang, alam yang cantik.
Alam yang tak pernah putus asa.
Hands down.

So on the way balik ke Exeter semula, kami singgah di rumah akhawat Plymouth. Akhawat ni baru je datang Jordan lebih kurang dua bulan yang lepas, dan menetap di Isti'ab :)

This is the last picture. Finally. 
Collage of all the universities yang kami pergi, dengan kata lain, ini ialah semua universiti mereka yang bawa kami berjalan.

London School of Economics (LSE), Kak Fiza is in her final year in Accounting.
The University of Manchester, abang Jannah studying Engineering.
Birmingham City University (BCU), abang Husna completing his masters there.
and, Exeter University, my senior merangkap life and debate coach, studying Economics di sana.

-------------------------------------
I think this entry is about to end already.
Banyak sangat benda aku dapat sepanjang trip ini, dan aku bersyukur ini bukanlah satu trip yang kosong dan kering,
Eventho hanya berjalan tengok nature, jumpa orang sana sini,
Tapi aku percaya, 
nilai sesuatu benda itu bergantung pada bagaimana kita letakkan nilai pada perkara itu.

Alhamdulillah 'ala kulli hal, wa astaghfirullah 'ala kulli zanbin.

till then,
nadsnyi.

Friday, December 28, 2012

untitled post (:

Bismillah. While i'm typing this, i'm still thinking why on earth i am so active updating this blog. Yes I know I also don't have any specific answer on that. Sue me for being so 'productive'. Haha hambar.

Okay.
I dont know where to start.

Student syariah di Jordan, (Syariah ini meliputi course Usul Fiqh, Usuluddin, Pengajian Islam dan Perbankan Islam. Siapa tak faham boleh whatsapp) wajib mengambil 9 jam credit hours utk subject Tilawah & Hafazan. Ada 6 Juz kena hafal. Terpecah kepada 2-2-2. Juz 25 sampai 30.

Tak berkualiti sungguh muqodimah. Failed nak publish buku. Oh pleasee like I want to, in the first place. Hambar lagi -.-

Orite.
Seperti yang aku tulis dalam page 'the me', I was a student in SM Islam Hidayah. Sekolah ni, masuk je form 1, diberi pilihan untuk kita nak masuk kelas tahfiz atau tidak. Sistem pembelajaran tetap sama, cuma diasingkan kelas dan ada subject syariah yang dikecualikan daripd batchmates yang lain, dan ada subjects yang kena belajar eg Ulum Quran dan Tafsir (kalau tak silap lah, heh)

Sistemnya bukan seperti di salah sebuah sekolah Musleh yg lain iaitu SM Islam Hira', sekolah saya takde Ma'had yang dikhususkan untuk tahfiz. Sekolah saya campur tahfiz dan sistem pembelajaran biasa. Amek SPM macam orang lain, amek PMR macam orang lain.

Jap, aku tak intend untuk promote sekolah. Tapi this is my warming up introduction since till this point, I still couldn't find my way to portray what had been lingering in my mind, now.

Nak dijadikan cerita, masa orientasi Form 1, I chose to enroll in kelas tahfiz, decision yang aku tak consult parents langsung, tak discuss dgn kawan langsung, semua ikut kepala sendiri. (macamlah sekarang tak?) Dengan fikiran yang kosong, aku pergi audition. Task dia, kena hafal dalam masa setengah jam satu muka surat dari AlBaqarah, aku ingat lagi page mana :) Dalam minda bawah sedar lagi, aku pergi tasmi' dengan Ustazah yang jaga tu, within less than half an hour.

Dan bermula lah aku jadi robot yang hanya menggerakkan mulut dan bibir dan lidah untuk menghafal AlQuran. Tanpa sedar sebenarnya aku adalah pelajar tahfiz, yang menghafal AlQuran. Lain dengan pelajar lain. Aku terus menjadi robot dan terus hafal kitab Allah itu, hanya untuk nak habiskan muqarrar. Hafal tasmi hafal tasmi hafal tasmi kem tahfiz balik kem tahfiz balik.

Kitaran hidup aku sepanjang 5 tahun sekolah menengah.
Robotic movement.
Was that too harsh? Yes it was, and yes reality hurts truth bites.

Di bawah sedar lagi, dalam hidup aku, bila dengar ayat Quran dalam radio (especially bila dah sampai Jordan, pakcik teksi dan coaster suka pasang ayat Quran), mulut aku bergerak untuk ikut apa yg dibaca. Walaupun tak semua. Kalau tak dapat gerakkan mulut, aku boleh bayang ayat tu kat mana, part mana dalam Quran, belah kiri atau kanan mushaf, atas atau bawah, atau apa ayat first muka surat tu.

Mungkin bagi orang lain, akan cakap bersyukurlah anda Nadiyah. Kenapa nak fikir serabut bagai?

Tapi tidak bagi aku.

Aku sedih sebab kenapa dulu macam, hafal tanpa hati? Kenapa dulu, hafal tanpa ada niat yg betul-betul jelas kenapa nak hafal Quran. Aku yakin, ** juz (aku tak hafal 30 ye, harap maklum. sebab masa form 5 buat peraturan sendiri dengan ustazah, nak limit sampai mana je) yang aku berjaya hafal dan tasmi' ni, bukan daripd hati aku yg betul-betul nak hafal disebabkan nak letakkan ayat Allah dalam hati, tapi berjaya sebab kelebihan intelektual dan minda yang Allah bagi, untuk aku cepat ingat dan senang hafal. Tu je. Yes. Itu sahaja.

Bila dah reborn kat Jordan ni, bila dalam usrah akan tadabbur ayat, baru rasa apa sebenarnya Allah nak sampaikan melalui AlQuran ni. Satu mushaf yang 5 tahun aku bawa. Bila murobbi nak mention ayat Quran, tapi dia tak ingat ayatnya, dan aku mampu tolong -- aku rasa sedih. Sebab dulu hafal hanya untuk permainan minda. Now. Aku takut Quran tu akan jadi hujah ke atas aku, bukan hujah untuk aku nanti (hadith- hujjah lak, au hujjah 'alaik). Takut Quran tu jadi fitnah, sebab dulu hafal bukan atas dasar cinta pd quran, tp sekadar jadi robot dan gerakan lazim dan rutin semata.

Astaghfirullah.

Yes tapi aku tak nafikan aku still bersyukur sebab ayat Quran yang aku hafal, aku ada lagi. Tapi tak tipu, perasaan kesal itu tetap ada. Lagi-lagi bila baca post yg aku pernah post kat blog batch aku click if you want to read , sebenarnya aku nampak je kepentingan Quran tu, tapi entah, perasaan still kosong lagi. Dapat Anugerah Tahfiz Cemerlang pun (euww so geli to type this), rasa mcm nak campak piala. (Tapi piala tu kat Malaysia hmm)

Sebab tu,
Bila kena amek subjects tilawah tu kat sini, aku macam tersentap jap. ''Oh wait im gonna to hafal quran, just like i did before kt sekolah, so whats the difference aku yg dulu dan aku yg sekarang, if i'm still the old me yg hafal gtu je, tak tengok makna ayat, ingat dalam kepala hilang dalam hati''

Shesshhh.
Mula-mula tadi kemain taktahu how to start and now it seems to be an endless entry, I suppose ;p

Entahlah. 
When we truly realize why He sent us this Quran, why He preserves this Quran till our generation, why He tells us all the stories of life and world in the Quran, why He hints us about choices of life, thru the visualization of Qiyamah, portraying Syurga dan Neraka in His Holy Quran, then we will resort in deciding to preserve it too in our heart. 

Niat kita akan tulus untuk ingat kalam Dia, hati kita akan sedar dan conscious kenapa kita nak hafaz kalam Dia. Sentiasa. 

Dulu aku hanya anggap tahfiz ni sebagai satu subjek (yes sadly to say, it was),
Semoga sekarang tidak.
Didn't I mention in my previous post, yang bila kita dah sedar kita dah membesar,
seluruh cara kita melihat kehidupan, akan berbeza?

Sepatutnya, ianya berbeza.
Sepatutnya.

Monday, June 25, 2012

Of first year and dependency

Bismillah. Assalamualaikum :")

Alhamdulillah 3ala salamah, selamat menduduki imtihan nihaie semester 2, merangkap sem terakhir aku untuk tahun pertama (okay cerita lama, baru nak tulis hehe). selamat check in di Taman Sri Pulai Perdana, Johor Bahru setelah terpaksa menempuh pelbagai onak liku perjalanan Amman-Muscat-Kuala Lumpur. Hampir aku terduduk putus asa, redha apa sahaja yang mungkin berlaku. tapi yeahh, bukan namanya Nadiyah lah kalau tak adventure macam tu kann *grinning smile*

So whats with 'of first year and dependency?'
*tampar pipi* well, jika ditanya pada aku, sememangnya aku masih tak percaya aku sudah fly ke Jordan, dah melalui satu tahun (k tipu tak smpai setahun lagi), dan dah balik Malaysia balik dah pun. dan lagi tak percaya aku berjaya hidup luar dari rumah. it can be considered as dependency sohh?

maka timbullah satu lagi soalan :
''hak alah nadiyah, kau duduk jordan jauh dengan family. tp ada kakak kt jordan rumah sepelaung je, boleh jumpa bila bila. boleh guna duit bila bila. boleh gaduh macam biasa tak payah pakai skype mahupun oovoo. so still?''


*gambar selingan : ini tutti fruti versi Jordan*

yes. maka itulah isunya. me myself know better about myself kan? aku datang Jordan bukan setakat nak datang belajar stres stres homesick belajar arab yeayy dapat mumtaz macam tu je, aku ada vision aku sendiri. dalam tempoh 4 tahun yang aku ada. so sekarang, 1 tahun telah habis maka tinggal lagi 3 tahun. dan dengan kata lain, tinggal lagi setahun untuk aku betul-betul grab chance yg ada sementara kakak ada lagi di Jordan....and the rest is rested as my unnecessary story to be told, to you :)

dan tahun pertama aku di Jordan, banyaaak sangat perkara aku dapat. terlalu banyak. sampai aku jatuh sayang pada bumi Jordan itu. *and of course I love Malaysia more hehe* segala yang bahagia dan derita semua aku simpan menjadi satu aset berharga dalam hidup. ini baru tahun pertama. so more surprises of life await kan? senyum.

so I managed to get my driving license Alhamdulillah. segala cerita di sebalik nak dapat sekeping kad biru itu sungguh priceless. segala keserabutan yang ada bersama itu sungguh takkan dapat dilupakan!

 I failed once for the theory examination. Husna said that it is because of my life motto is 'Break the cliche', so I got what normal people didn't get. Eg ; fail in exam teori ni. Hellooo siapa yang fail exam ni? kalau practical boleh terima lah kan? haha. 

Alhamdulillah untuk muaddal (pointer) untuk tahun pertama ini. Walaupun mumtaz cukup cukup makan iaitu hanya 0.3 dari peruntukan minimum, tapi Alhamdulillah atas rezekiNya. I reap what I sow kan? Dan dgn words lain ialah padan muka diri sendiri lah kan? 

 teman study ; candy and besta. 

Dan sesungguhnya aku SANGAT takut untuk menghadapi tahun akan datang lagi. sebab subjects makin susah, bahasa arab dalam buku makin complicated, juniors makin ramai dan semoga aku tidak menjadi semakin malas. Allahumma ameen.
Cemerlang itu wajib, bukan pilihan :')

 Good Morning and Good Night note from Aufa. how sweet of her <3

 random babbles. and random penconteng. and random penyibuks. 

bila duduk jauh dengan family, kekuatan kita mestilah kawan kawan, bagi aku (dengar ni, ni bagi aku, taktahu bg orang lain) nak 'hidup' kat overseas ni senang je. kena pandai pilih kawan. sebab pengaruh rakan sebaya sangat kuat. jadi either kita yang pengaruh kawan kita, atau kawan kita pengaruh kita. sebab mostly aku nampak macam tu lah. with that, I rest my case.

tapi ada jugak yang biasa biasa. tak terjentik sikit pun dengan kawan sekeliling dia. dengan ini aku respect mereka. because i've witnessed a few jugak lah. well, semua orang berbeza beza. celebrate differences :)

 schoolmates yang kini menjadi university-mates. 

 and them. how annoying or boring they might be, I love them very much :D

dan tahun pertama ini aku menjejakkan kaki ini ke tanah Andalusia dan Ireland yang kalah awal awal lagi for EURO12. K. apa yang membuatkan hati aku sedikit bahagia ialah aku melawat segala tapak islam di Andalusia itu bukan dengan fikiran kosong hanya nak datang snap snap gambar upload fb twitpic yeay org RT yeay org like semata, tapi daurah Andalus yg dibekalkan sebelum berjaulah ke Spain itu benar benar dapat membuka mata aku, tentang hakikat sebenar melihat tapak binaan orang islam suatu ketika dahulu.

perasaannya? takkan pernah berjaya aku ungkapkan dengan taipan jari atas keyboard mahupun kata kata menceritakan pengalaman. 

 morning walk with akhawat Dublin :)

Hmm,
another thing : GMJ 

 Lol. Adah and Nadia gave me this drawing. They say it really portrays how am I actually and how I usually act. Plus the bunga kat tudung tu, so sweet of them, faham betul kawan mereka macam mana.

 me and husna (lagi?) at Amman, supporting GMJ. panas sangat sangat. balik aku demam.
tak tipu.

so I end this crappy post (haha) with a picture of my girlfriends, my crying shoulder my punching bag my ears and my strength absolutely. together we strive towards better us insyaAllah. 

oh Allah, I love them, keep them beneath Your love and compassion.
Always and forever ameen.


''belajar oversea ni, kita jauh dari family. so ada dua kemungkinan je. either kita tak sempat jumpa mereka. atau mereka yang tak sempat jumpa kita''

''bila kita ada masalah, bila kita rasa serabut, mungkin tu tanda kita dah jauh dari Allah, tingkatkan lagi pergantungan pada Dia. mesti ada ma'siat atau dosa hati kita dah buat. sampai hati kita jadi tak tenang. Astaghfirullah. ''

''ujian ni, ada dua je. samada untuk nak hapus dosa kita, atau nak naikkan taraf darjat keimanan kita. thiqoh lah pada Dia''

''Nadiyah, you're more than that. you're strong enough. endure it. have faith in Him''

''kita buat apa apa, biar Allah redha, kalau tak, sangat sia sia''

Moga Allah kuatkan hati kita.

till then,
nadsnyi
Johor Bahru, Johor.